15 June 2007

Konsern

Pada dekade terakhir ini, perhatian kita pada praktek-praktek pembuangan limbah, baik tiu limbah industri, maupun limbah rumah tangga yang dimanifestasikan oleh limbah kota, telah meningkat dan menjadi semacam gerakan laten yang diterima ataupun tidak, menasional. Pengaruh dari tekanan ini telah menjadi sebuah kerangka penting dalam mengembangkan manajemen sampah, terutama manajemens ampah kota Bandung. Namun tampaknya, pemerintah kota masih mencoba untuk mengambil langkah sophisticated dan masih mengenyampingkan cara-cara tradisional dan berdana rendah dalam mengelola sampah. Landfill masih menjadi primadona pengelolaan sampah di Bandung, walaupun wacana ke arah penerapan pembakaran langsung (dengan unit incineratori) telah mengemuka. Beberapa studi dan proposal penelitian yang menggunakan cara-cara "baru", seperti studi minimisasi sampah sejak awal, penggunaan kembali sampah, perlakuan fisik/kimia/biologi, stanilisasi kimia/metoda solidifikasi, mulai dilirik oleh para pakar/ilmuwan yang konsern terhadap masalah sampah yang dihadapi oleh Bandung. Maraknya studi-studi seperti ini, membuka peluang pengembangan dan pembangunan proses pembelajaran masayarakat secara desentralisasi. Masalah sampah, memang konsern kita semua.

08 June 2007

Revitalisasi TPA Bandung dan Konsep Pengelolaan Sampah Bandung

Pemerintah Kota Bandung berencana untuk melakukan revitalisasi TPA Sari Mukti yang terletak di Kecamatan Cipatat, kabupaten Bandung. Revitalisasi ini berupa perbaikan infrastruktur dan pebangunan fasilitas pembuatan kompos di areal TPA. Proses revitalisasi ini akan berlangsung selama 3 tahun. Anggaran yang disediakan dari APBD sekitar 22 milyar rupiah. Sebuah langkah kongkrit yang menggembirakan. Apalagi jika revitalisasi ini juga akan meliputi perbaikan dan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah modern di TPA Leuwigadjah.
Namun sebenarnya yang lebih penting adalah, bagaimana Pemerintah memberikan ruang kepada proses pendidikan manajemen sampah sederhana kepada seluruh masyarakat, sehingga filosofi reduce, reuse dan recycle menjadi pola hidup masyarakat yang mengakar. Karena selama ini, pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah terkesan setengah-setengah. Tidak ada usaha masif yang menusuk dalam kepada perubahan pola pikir secara kolektif.
Gambar di atas saya curi dari Pikiran Rakyat. Pengelolaan sampah di Bandung masih terus mengandalkan usaha-usaha tradisional yang mengedepankan pemerintah sebagai ujung tombaknya. Pengelolaan sampah tidak dimulai dari akar rumput, tidak ada usaha-usaha pengelolaan sampah dalam skala rumah tangga. Mungkin sudah saatnya setiap individu komponen masyarakat mulai menyadari bahwa pengelolaan sampah di skala rumah tangga merupakan konsep progresif yang secara langsung dapat mengatasi masalah makro pengelolaan sampah di Bandung.

Lagi-lagi Insinerator

Mumpung saya sedang berbicara tentang insinerator, saya menemukan sebuah penelitian tentang insinerator kaitannya dengan aspek perancangan di Digilib ITB. Penelitian ini berjudul ARSITEKTUR PERALATAN INSINERATOR SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH YANG DISESUAIKAN DENGAN KONDISI KOTA BANDUNG, yang dilakukan oleh Sdr. Lukman Abdurachman dari Teknik Sipil ITB.

Simak:

Sampah perkotaan merupakan masalah besar bagi pemerintah kota, karena jurnlahnya terus bertambah sesuai pertumbuhan penduduk, sedangkan lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin terbatas. Data Perusahaan Daerah Kebersihan Kota Bandung tahun 2004 menunjukkan jumlah sampah sekitar 7500 m3/hari, atau setara dengan 1875 ton/hari (dengan asumsi berat jenis sampah sebesar 0.250 ton/m3)
Tahun 2003, BPPT melalui Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan membuat metoda pengelolaan sampah terpadu, dengan rnelakukan proses daur ulang untuk sampah anorganik dan pengkomposan untuk sampah organik, sehingga sisa sampah setelah proses tersebut sebesar 18% atau setara dengan 1350 m3/hari (337.5 ton/hari).
Sisa sampah dapat direduksi lagi untuk menghilangkan sampah secara total dengan menggunakan mesin insinerator, sebagai proses reduksi volume sampah yang paling efektif, yang dapat membakar sampah padat menjadi abu sehingga volumenya tereduksi mencapai 10-20%
Penelitian ini difokuskan pada desain peralatan insinerator yang sesuai dengan kapasitas sampah Kota Bandung yang mampu memenuhi tantangan claim hal kualitas produk yang terkait erat dengan kebutuhan konsumen (customer needs), desain peralatan dengan kualitas yang baik, serta biaya investasi yang diperlukan.
Perhitungan secara kuantitatif menggunakan analisa konjoin sebagai alat pengukuran konsumen, analisis klaster sebagai alat pengelompokan konsumen, Quality Function Deployment sebagai alat untuk menghasilkan nilai target spesifikasi karakteristik teknis, serta metode Pengembangan Produk Generik dalam penentuan arsitektur produk.
Hasil penelitian menunjukkan peralatan insinerator yang layak digunakan dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung adalah 5 buah insinerator dengan kapasitas masing-masing sebesar 80 ton perhari. Biaya investasi untuk membuat satu buah incinerator tersebut sebesar Rp. 9.822.000.000,- dengan biaya operasional sebesar Rp. 3.000.000,- perhari.

05 June 2007

Insinerator Cocok bagi Pengelolaan Sampah Bandung?

Kalau anda ke Bandung lewat jalan tol Pasteur, sekitar 1 km dari pintu tol, di sebuah TPS di sebelah kiri jalan tol terdapat sebuah insenerator yang akhir-akhir ini bekerja secara terus menerus. Asap tebal mengepul dari bagian atas insenerator, putih kehitaman, menarik perhatian pengemudi yang kebetulan meliwati ruas jalan tol itu.

Insenerator memang sempat menjadi salah satu opsi unit pengelolaan sampah di Bandung. Sampah dibakar, volumenya menyusut atau bahkan hilang, masalah penumpukan sampah terselesaikan. Bahkan ada yang kemudian dilengkapi dengan unit pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan panas hasil pembakaran sampah itu. Namun, sekali lagi, benarkah pengelolaan sampah dengan membakarnya di insenerator adalah opsi yang baik untuk Bandung?

Banyak yang melihat bahwa proses ini adalah solusi yang baik. Sampah hilang, dapat listrik. Namun para pakar lingkungan justru mempertanyakan proses ini. Emisi gas yang ditimbulkannya akan menjadi masalah besar bagi Bandung yang nota bene terletak di cekungan Bandung. Gas buang yang teremisikan dari unit-unit pembakar sampah ini tidak akan pernah hilang dari atmosfir kota Bandung Raya. Dan emisi gas itu akan membentuk lapisan rumah kaca yang akan secara progresif meningkatkan temperatur ambien.
Perdebatan tentang hal ini masih terus berlangsung, dan hingga sekarang belum ada titik temu bagaimana sebaiknya Bandung bersikap.

31 May 2007

Flickr

This is a test post from flickr, a fancy photo sharing thing.