16 December 2005

Pengomposan: Manusiawi

Seorang teman membuat sebuah unit pengomposan sederhana di halaman rumahnya. Unit pengomposan ini terdiri dari rangka besi yang diselubungi kawat kasa untuk mencegah datangnya lalat dan plastik di bagian luarnya. Bahan yang akan dikomposkan dimasukkan dari bagian atas. Kompos matang bisa diambil dari bagian bawah. Menurutnya, sejak September 3 bulan yang lalu, unit komposternya ini tidak pernah penuh, walaupun komposnya tidak pernah diambil. Pengomposan memang sebuah usaha yang sangat manusiawi, karena selain mereduksi jumlah sampah organik yang dibuang, juga emmaksa unsur hara tanah tidak terbuang percuma.
Berbau? Tidak, karena katanya, proses pengomposan ini tidak akan berbau sepanjang sampah yang dibuang ke dalamnya tidak mengandung tiga hal: daging, tulang dan minyak.

15 December 2005

TPA Liar di Tanah Baru Depok Ditutup

TEMPO Interaktif, Depok:Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Depok, menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Liar yang terletak di Rw 10, Kelurahan Tanah Baru Kecamatan Beji seluas empat hektar yang bersebelahan dengan Perumahan Villa Mutiara Cinere.

Kepala Satpol PP Depok Asep Sumihardja, menyatakan, menutup di TPA liar itu dengan cara membuat papan besar yang betuliskan "TPS Ini Ditutup." Papan dengan ukuran 100 x 50 centimeter itu terpampang di depan pintu masuk TPA yang tertutup pagar seng. "Kami sudah membuat papan itu dan melakukan patroli keliling setiap hari,"kata Asep, Kamis (15/12). Menurut Asep, patroli keliling akan selalu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya truk sampah ke TPA liar.

Sampah Bandung: Mampukah TPA Babakan Memikul Beban?

Diambil tanpa ijin dari PR.



PASCALONGSOR TPA Leuwigajah, permasalahan sampah di Kota Bandung seakan tak pernah usai. Penggunaan TPA Jelekong sebagai tempat pembuangan sampah dari ribuan warga Kota Bandung dan Cimahi ternyata tak bertahan lama. Maklum, sama sekali tak ada pengolahan sampah dan ribuan kubik sampah itu hanya ditumpuk begitu saja.

Habisnya masa pakai TPA Jelekong akhir tahun ini melahirkan persoalan baru bagi sampah di Kota Bandung. Masyarakat sekitar TPA Jelekong mengancam akan memblokir jalan menuju TPA jika PD Kebersihan Kota Bandung masih terus melakukan pembuangan sampah ke tempat itu hingga akhir tahun ini. Di sisi lain, gunungan sampah dipastikan akan teronggok begitu saja di tiap sudut Kota Bandung jika tak segera diangkut menuju TPA.

Penanganan sampah di Kota Bandung seakan tak pernah dapat diselesaikan secara paripurna. Rencana pembangunan TPA Citatah lengkap dengan teknologi dan mesin pengolahannya masih juga belum dapat direalisasikan. Padahal, masa pakai TPA Jelekong tinggal dalam hitungan hari.

Munculnya nama TPA Babakan menjadikan tanda tanya besar. Mampukah TPA seluas 10,2 hektare itu menampung sampah dari kota Bandung?

TPA Babakan secara administratif berada di wilayah Desa Babakan Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Letak TPA ini berbatasan langsung dengan dua desa di Kecamatan Arjasari. Dengan demikian, dampak dari gunungan sampah ini dirasakan langsung oleh warga di dua kecamatan tersebut.

Terdapat beberapa kampung yang berbatasan langsung dengan TPA itu, yakni, Kampung Cicangri dan Karangwulan (Desa Rancakole, Arjasari), Kampung Pasirangin (Desa Ancolmekar, Arjasari), Kampung Kalebuhanbulan, Cibodo, Lewicariu, dan Lembang (Desa Babakan, Ciparay).
TPA ini memanfaatkan Sungai Legokhantap yang alirannya telah mati dalam sebuah lembah dengan kedalaman sekira 50 meter. Mulai dibangun sekira tahun 1989, namun mulai dioperasikan pada 1990.

Semula, TPA Babakan hanya digunakan untuk membuang sebagian kecil sampah dari wilayah Kabupaten Bandung dan hanya belasan truk yang membuang sampahnya ke TPA ini.
Peristiwa longsornya TPA Leuwigajah melahirkan persolan lain. Buangan sampah dari beberapa daerah di Kabupaten Bandung kemudian dialihkan ke TPA Babakan sejak tahun lalu. Volume sampah yang dibuang ke TPA ini pun melonjak. Dari sekira 16 truk per hari, kemudian melonjak hingga sekira 60 truk per hari.

Jalan menuju TPA Babakan dapat ditempuh sekira 15 kilometer dari Banjaran atau sekira 7 kilometer dari arah Ciparay, melalui jalan berkelok, tak mulus, dan menanjak selebar 3,5 meter.
Samad (45), seorang sopir truk pengangkut sampah mengaku sangat kesulitan mengemudikan kendaraannya saat menuju TPA Babakan. Selain rusak dan sempitnya jalan, jalan raya ini juga cukup ramai oleh warga hingga rawan kecelakaan.

Berbeda dengan TPA Jelekong, areal TPA Babakan ini masih terlihat sangat lengang. Saking lengangnya, sama sekali tak ada mesin pengolah sampah, bahkan bangunan kantor TPA sama sekali.

”Kantornya sih ada, tapi dalam keadaan rusak dan tak pernah ada petugasnya. Beberapa kali kantor itu menjadi sasaran kemarahan warga yang dirugikan oleh keberadaan TPA itu,” kata Yoyo (45), Ketua RW 12 Desa Babakan.

Selama dua minggu terakhir, tengah dilakukan pengurukan di sekitar TPA Babakan seluas 6.200 meter persegi dan akan segera dibangun enam buah bangunan termasuk mesin pemilahan sampah, pengolahan, gedung kantor, dan gudang. Rencananya, keenam bangunan itu akan selesai pada Maret 2006 nanti.

Warga sekitar TPA memang merasa dirugikan karena jalan desa perlintasan mereka sehari-hari penuh lumpur dari sampah yang tercecer dari mobil bak sampah. Belum lagi polusi bau sampah, pencemaran air, rusaknya jalan, hingga serbuan lalat.

Sebagai kompensasi, Pemkab Bandung akhirnya memberikan bantuan dana Rp 3,3 juta untuk Desa Babakan, Rp 3 juta untuk Rancakole, dan Rp 1,2 juta untuk Ancolmekar. Kompensasi ini diberikan setiap tiga bulan dan telah berjalan selama satu tahun terakhir. Karena jumlah nominal kompensasi itu terlalu kecil jika dibagikan kepada tiap kepala keluarga, tiap RW memanfaatkannya untuk pembangunan fisik di daerahnya.

”Kalau saja sampah Kota Bandung jadi dibuang ke sini, itu bagaikan membangunkan macan tidur!” kata Cecep Agusjaya (36), warga Kampung Cicangri Arjasari. Maksudnya, ketenangan dan kenyamanan warga sekitar TPA Babakan akan terusik jika makin banyak truk sampah yang lalu lalang di sekitarnya. Menurutnya, gejolak di tengah masyarakat kemungkinan besar akan terjadi jika rencana pembuangan dari Kota Bandung tetap dilakukan.

**

Persoalan TPA memang tak akan pernah usai selama sampah hanya dibuang dan ditumpuk begitu saja. Usulan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kab. Bandung, Nana Priatna, agar Pemkot Bandung segera berkonsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk mencari solusi sampah, rupanya harus ditanggapi serius.

Jangan sampai, permasalahan lain justru timbul setelah TPA Jelekong ditinggalkan dan semakin meruwetkan persoalan sampah di Kota Bandung.

Padahal, ribuan warga Kota Bandung yang membayar iuran sampah setiap bulannya adalah amanah yang harus diemban Pemkot Bandung. (Deni Yudiawan/”PR”)***

Bandung: Sampah di Mana-mana!

Sehubungan dengan situasi darurat di TPA Jelekong yang sudah penuh, tampaknya pemerintah memilih untuk tidak mengangkut sampah yang menumpuk di beberapa TPS di dalam kota. Tampak sampah membludak menggunung di berbagai lokasi tempat pembuangan sementara. Tumpukan sampah ini pasti mengganggu masyarakat sekitarnya. Belum lagi jika fasilitas umum yang fungsinya terganggu akibat tumpukan sampah ini.

Saat ini, Bandung SANGAT IDENTIK dengan sampah.

Usaha untuk mengubah 85% bagian yang berupa sampah organik menjadi kompos merupakan salah satu solusi praktis yang paling memadai. Karena selain murah, usaha pengomposan sampah organik adalah salah satu usaha untuk menyelamatkan unsur hara tanah kita.

Fitri Oktarini menulis tentang hal ini di Tempo Interaktif.
Simaklah:

Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Kamis, 25 November 2004 14:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sampah rumah tangga, menyumbang tidak sedikit dari sekitar 6000 ton total produksi sampah per hari di ibukota Jakarta. Jika setiap rumah mampu mengelola sampahnya dengan baik, akan sangat membantu mengatasi problem sampah di Jakarta. Caranya?

Peneliti dan ahli lingkungan Badan Pengkajian dan Pengembangan Tekhnologi (BPPT) Henky Sutanto mengatakan sebenarnya sampah rumah tangga bisa diubah menjadi kompos yang berguna untuk tumbuh-tumbuhan di pekarangan rumah sendiri.

Sampah basah (organik) bekas makanan-atau minuman sehari-hari dipisahkan dari sampah kering (anorganik) seperti kaleng, plastik, kertas. Sampah basah itu kemudian ditumpuk dalam sebuah lubang kecil di pekarangan rumah. Dalam jangka waktu tertentu bagian paling bawah dalam tumpukan tersebut bisa diangkat kemudian ditebarkan ke tanaman sebagai pupuk kompos.

Pengolahan sampah menjadi kompos, yang bisa dimanfaatkan memperbaiki struktur tanah, untuk meningkatkan permeabilitas tanah, dan dapat mengurangi ketergantungan pada pemakaian pupuk mineral (anorganik) seperti urea. Selain mahal, urea juga dikhawatirkan menambah tingkat polusi tanah. Ada juga cara lain untuk mengurangi volume sampah. Dengan cara dibakar. Tetapi pembakaran sampah menghasilkan dioksin, yaitu ratusan jenis senyawa kimia berbahaya seperti CDD (chlorinated dibenzo-p-dioxin), CDF (chlorinated dibenzo furan), atau PCB (poly chlorinated biphenyl).

Jika senyawa yang berstruktur sangat stabil itu hanya dapat larut dalam lemak dan tidak dapat terurai ini bocor ke udara dan sampai kemudian dihirup oleh manusia maupun hewan melalui udara. Dioksin akan mengendap dalam tubuh, yang pada kadar tertentu dapat mengakibatkan kanker.

Lalu, bagaimana dengan rumah dengan pekarangan yang sempit ? Misalnya di kompleks perumahan. Menurut Henky hal yang serupa bisa juga dilakukan dalam lingkungan kompleks. Sampah dari masing-masing rumah dikumpulkan dalam satu lokasi di dalam kompleks, yang dikhususkan menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sampah kering dan sampah basah dipisahkan. Sampah basah kemudian ditumpuk. Dalam jangka waktu dua bulan, akan menjadi kompos. Kompos itu, bisa dibagikan ke setiap rumah yang membutuhkan pengganti pupuk untuk tanaman. Dengan begitu, persoalan samapah di lingkungan sekitar bisa teratasi secara kolektif.

Fitri Oktarini

10 December 2005

Wali Kota Ingin TPA Citatah Beroperasi Januari 2006

Wali Kota Bandung, H. Dada Rosada, ingin TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) Citatah segera beroperasi pada Januari 2006. TPA Citatah ini dimaksudkan sebagai pengganti TPA Jelekong yang telah habis masa berlakukanya bulan ini.
Sehubungan dengan habisnya masa berlaku TPA Jelekong sebagai tempat pembuangan sampah Kota Bandung dan sekitarnya, akhir-akhir ini tampak terlihat timbunan sampah di berbagai sudut kota. Sampah-sampah tersebut memang tak bisa terangkut karena TPA Jelekong telah tidak bisa menampung tambahan sampah kota. Akibatnya, bau tak sedap mulai tercium di berbagai TPS di berbagai sudut kota. Hal ini tampak terlihat di TPS Parakan Saat, TPS Jalan Jend Sudirman, TPS Taman Sari, TPS, Jalan Terusan Jakarta, dan di beberapa TPS lainnya.