Composter
Sejak 6 bulan yang lalu, sebuah composter berwarna biru tergeletak di belakang rumahku. Sejak itulah aku tidak pernah lagi membuang sampah organik. Composter ini dilengkapi dengan sebuah "pintu" kecil di bawah untuk mengeluarkan kompos yang telah matang. Sebuah ventilator mencuat di atas berupa pipa PVC yang berlubang-lubang untuk menjamin sirkulasi udara yang baik. Ventilator dirancang sedemikian rupa sehingga air hujan tidak akan masuk ke dalam composter yang dapat membasahi sampah secara berlebihan. Sebuah composter yang sederhana, yang sangat mudah diproduksi dan sangat fungsional.
Sampah organik kupotong-potong menjadi potongan kecil-kecil. Kemudian sampah tersebut kucampur dengan kira-kira 10% kotoran kambing yang kebetulan sangat mudah kudapatkan dari kampung sebelah. Seluruh campuran tersebut kumasukkan ke dalam composter, dan kompos kupanen setiap 2-3 minggu sekali.
Tidak susah mengoperasikannya. Sederhana dan bersih. Berbau? Tidak, kecuali jika kau masukkan kepalamu ke dalam composter, dan bernafas dalam-dalam.
Di Bandung ini, tidak ada yang tak mungkin. Walaupun tulisan larangan itu dibuat dengan huruf yang besar dan mencolok mata, masih saja ada orang yang tidak mengindahkannya. Kalau tidak disebut "belegug", entah orang yang berbuat ini pantas disebut apa lagi. Gambar ini aku ambil di Jalan Ganesha di depan kampus ITB, di pojok dinding dekat Mesjid Salman.