09 April 2005

Sampah yang Masih Tak Tersentuh

Kata orang, kalau mau melihat kondisi sampah di Bandung, lihatlah TPS di Jalan Bengawan, di depan Gereja Maranatha. Di sana, frustrasi pemerintah kota Bandung terlihat dengan jelas. Di tempat sampah inilah tersirat dengan gamblang bagaimana pemerintah kota gagal mengelola masalah sampah di kota ini. Kata beberapa sumber yang aku hubungi, truk-truk sampah sudah mulai mengangkut sampah yang menumpuk mengerikan di lokasi ini.

Tidak ada yang paling bahagia ketika melihat jumlah sampah di Parakan Saat yang sudah mulai surut selain penduduk sekitar dan anak-anak Sekolah Dasar Parakan Saat. Sampah di lokasi ini sudah mulai surut, terangkut sebagian sejak kemarin. Gundukan sampah yang beberapa hari yang lalu sudah mulai memenuhi setengah badan jalan, sudah hilang, walaupun tempat ini masih belum kembali asri. Bau busuk masih menyengat dari jarak 200 meter.


Namun, surutnya sampah di berbagai tempat di sudut kota Bandung tidak diikuti oleh keadaan sampah di Jalan Terusan Jakarta Antapani. Keadaan sampah di sana malah semakin bertambah buruk, karena badan jalan yang dipenuhi sampah makin banyak. Mobil dan pejalan kaki yang meliwati tempat ini semakin merasa kesusahan. Pada waktu-waktu tertentu, terjadi kemacetan yang cukup parah di sekitar lokasi ini. Masalah multi dimensi yang dihadapi oleh Bandung memang tidak mudah dan perlu perhatian dari seluruh komponen masyarakat. Harus ada langkah-langkah strategis yang direncanakan secara matang untuk mengatasi hal itu semua. Langkah-langkah sosialisasi untuk menyadarkan masyarakat akan masalah sampah di Bandung harus dilakukan dengan segera. Hey, orang melayu di Malaysia bisa, mengapa melayu di Indonesia tidak?


2 comments:

Mawardi Husein said...

Betapa kita sebagai bangsa teramat bodoh untuk sekedar kelola sampah ya ?

Bukankah banyak teknologi sederhana untuk mengolah sampah ? Saya sependapat dan merasakan manfaatnya komposter atau Bio Reaktor yang dibuat Green Phoskko. Dalam 2 minggu ternyata sampah organik menjadi kompos. Lumayan lho buat rekreasi akhir pekan merawat tanaman sendiri dengan pupuk buatan sendiri.
Ah, nampaknya masalah sampah juga menyangkut vested tertentu. Kalau ngak ada masalah, apa alasan untuk dapat anggaran ? Kembali, mental proyek. Dimana ada proyek, disana ada uang. Mari berlomba untuk mencari-cari semua hal dijadikan proyek. Memang kita termasuk kedalam bangsa yang peradabannya seperti itu, mau apa lagi?

Harry said...

Tampaknya melalui berbagai sarana, kita bersama-sama dan sendiri-sendiri harus menghimbau masyarakat untuk mengelola sampahnya sendiri. Kesadaran ini harus ditumbuhkan sejak dini. Semakin sering himbauan ini diketengahkan dan dikomunikasikan, masyarakat akan semakin sadar bahwa pengelolaan sampah rumah tangga merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat yang sehat.