30 March 2005

Pasar Minggu Nyampah

Sedikit hal yang mengganjal hatiku, dan aku tidak bisa tidur kalau memikirkan hal ini.Begini. Setiap hari minggu pagi, di sekitar Lapangan Gazebu - Gedung Sate dan di sekitar Kantor Samsat di Jalan Soekarno-Hatta Bandung, terdapat kegiatan dadakan, yang sudah menjadi semacam event mingguan. Pasar dadakan yang semrawut! Hingga saat ini, sedikit sekali komentar yang pernah dirilis oleh Pemerintah Kota dan DPRD tentang hal ini. Padahal impact-nya cukup signifikan terhadap keteraturan dan kebersihan kota.

Pertama.
Pada saat kegiatan ini berlangsung, lalu-lintas di sekitar daerah ini menjadi sangat semrawut. Mereka yang berasal dari Bandung Selatan yang ingin ke daerah Dago atau sebaliknya, praktis harus memutar emlalui jalan yang lumayan jauh.

Kedua.
Sampah yang dihasilkan, waduh!, mengotori daerah sekitarnya dan, masak ya orang-orang ini tidak bisa diatur?

Mereka membuang sampah seenak udel, dan sama sekali tidak memiliki tanggung-jawan moral untuk bersama-sama memelihara kebersihan lingkungan.Tampaknya pemerintah kota dan wakil rakyat harus mulai mengeluarkan ide-ide yang cerdas untuk mengatur agar perubahan entropi tidak terlalu positif, sehingga ketidak-teraturan yang terjadi tidak membuat segala sesuatunya lebih amburadul. Beberapa pertanyaan praktis lantas hinggap di kepalaku:

  • Mengapa para pedagang dadakan ini tidak disuluh terlebih dahulu?
  • Mengapa pemerintah kota enggan untuk memasang tong sampah umum di beberapa tempat di sekitar daerah pasar dadakan?
  • Mengapa masalah ini tdak pernah disosialisaikan secara komprehensif ke seluruh masyarakat kota?
  • Mengapa kelihatannya susah sekali untuk memberikan contoh yang nyata tentang bersih kota kepada masyarakat kota? Padahal ini bisa dimulai dari daerah di sekitar balai kota, dengan juga menerapkan disiplin personal dari seluruh aparat kota.
  • Mengapa orang Bandung susah sekali diajak untuk hidup teratur, bersih, dan berbudaya?
  • Mengapa tidak ada kesan bahwa orang Bandung "bermartabat"?

Tidak ada yang gampang dan gratis, memang. Tapi kalau tidak dimulai dari 1, angka 1000 tidak akan pernah ada.

2 comments:

Anonymous said...

Salut!

FOKAL said...

wong pd kebersihan juga tukang ngumpulin sampah, makanya di contoh sama warganya. makanya sampah jangan di tumpuk tapi di pecah belah (de vide et impera). Kalau mau meneladani warga coba berikan contoh yang baik, seperti tepat waktu dalam pengambilan sampah, dan biasakan untuk tidak menimbun sampah tapi di pilah, kalau instansi sekelas pd kebersihan saja tidak bisa melakukan 3r bagaimana warga mau bisa. satu lagi pekerjaan anda juga tanggung jawab kami (warga) tapi warga tidak di bayar pd di bayar jadi pihak pd harus lebih pro aktif dan bijaksana, jangan mau uangnya aja, itu belum pungli yang suka dipraktekan oleh oknum yang nakal. mari kita sama-sama benahi kota kita dengan belajar bijak. terimakasih