31 March 2005

”Komposter” untuk Sampah Rumah Tangga

Image hosted by Photobucket.comTahu enggak, 80% dari sampah yang dibuang ke TPA adalah sampah organik? Tahu enggak apa arti 80% tempat di TPA yang bisa dihemat jika seluruh masyarakat berpartisipasi untuk mengolah sampahnya sendiri? Pesan ini mengemuka ketika Departemen Pekerjaan Umum memamerkan teknologi sederhana pengolahan sampah rumah tangga yang disebut Komposter.

Alat ini dibuat dari tong plastik dan PVC. Komposter ini dijual dengan harga Rp 250.000,-. Proses pengomposan akan terjadi dalam 4-6 bulan. Sehingga setiap keluarga memerlukan 2 komposter yang digunakan secara bergantian. Mudah, bukan?
Yang berminat, silahkan menghubungi Ir. Lya Meilany, peneliti pada Puslitbang Pemukiman PU. Atau bisa langsung kepada Kepala Badan Litbang PU, Roestam Sjarief. Tampaknya Pak Awan Gumelar harus melakukan sosialisasi kepada seluruh masyarakat Bandung, agar mau memroses sampahnya sendiri. C’mon pak Awan!

3 comments:

Mahadi said...

Komposter bisa bertahan 6 bulan menjadi kompos bagus. Masalahnya:
1. Kalau ada motif ingin mendapatkan komposnya harus menunggu 6 bulan terlalu lama,
2. Kenapa Desainnya tidak dibuat dengan metoda aerob seperti komposter Green Phoskko ? Setahu saya di Bandung ada komposter atau Bio Reaktor yang mampu membuat kompos 14 hari saja.
Mahadi

Harry said...

Terima kasih Pak Mahadi atas commentnya. Informasi anda sangat berharga untuk masyarakat. Apakah anda bisa memberikan informasi yang lebih jelas tentang hal ini?

Informasi yang ditayangkan di blog ini diambil dari Pikiran Rakyat. Dan aku percaya bahwa komposter yang dibuat oleh PU tsb diperuntukkan untuk rakyat kecil dan bukan berorientasi industri.

Salam damai!

ARU said...

saya dah sempat lihat komposter buatan PU pemukiman kebetulan waktu jaman2 buat skripsi temen sy penelianya ttg komposter, klo pun temen2 mo buat gampang,buatnya gampang ko dr drum dan diberi lubang aerasi.n ini tipe nya aerob lho bukan anaerob, bisa jadi 6 bulan itu adalah kapasitas komposternya. yg jadi masalahnya ad. males buat komposnya...itu sbenernya kendala di masyarakat. klo ga males pasti dah dr dulu booming (ini yg terjadi pada sy juga sih)