15 May 2006

PR Hari Ini

  • Sampah Menumpuk, Waspadai Leptospirosis :: Tumpukan sampah di 189 tempat pembuangan sementara (TPS) di Kota Bandung, selain mengundang lalat penular penyakit diare, difteri, dan tifoid, juga telah meningkatkan populasi tikus. Masyarakat perlu mewaspadai kehadiran binatang pengerat ini karena bisa menularkan penyakit leptospirosis yang gejalanya mirip flu.
  • Sampah Harus Hilang Paling Lambat 20 Mei :: Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, memberikan ‘warning’ kepada Bupati Bandung, Wali Kota Bandung, dan Wali Kota Cimahi agar 20 Mei mendatang, sampah yang menumpuk di Kota Bandung dan Cimahi sudah terangkut ke tempat pembuangan yang telah disepakati bersama.
  • Akses ke Jangkurang Lebih Sulit :: UPAYA mengatasi bertumpuknya sampah di Kota Bandung mengerucut pada dua buah lokasi yang rencananya akan dijadikan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Selain lokasi Pasir Legok Nangka di Desa Ciherang Kec. Nagreg Kab. Bandung, pihak Pemkab Garut telah menawarkan sebuah lokasi yang lebih luas di Blok Pasirmalang dan Legok Kerak Desa Jangkurang Kec. Leles Kab. Garut.
  • Naha Jauh-jauh Miceun Runtah Kadieu?” :: IRING-IRINGAN rombongan Bupati Garut serta jajarannya, Senin (8/5) lalu, membuat heran sejumlah warga Kampung Ciheuleut Desa Jangkurang Kec. Leles Kab. Garut. Keheranan mereka tak lain karena tak biasanya rombongan pejabat lengkap dengan unsur muspida lainnya, datang ke kampung mereka yang berada jauh di balik bukit dan jauh dari pusat keramaian.
  • Awalnya, Cuma TPA Sampah dari Garut :: RENCANA pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Blok Pasirmalang dan Legok Kerak Desa Jangkurang Kec. Leles Kab. Bandung, sebenarnya bukan untuk menampung sampah dari Kota Bandung, Kab. Bandung, dan Cimahi, namun, hanya untuk sampah dari wilayah Kab. Garut, sebagai pengganti TPA Pasirbajing yang hampir habis masa pakainya.

3 comments:

Anonymous said...

Kalau menyimak "warning" Bpk Gubernur Jawa Barat, tentunya tidak akan menyelesaikan masalah. Ini adalah tipikal pemerintah yang cuma bisa menekan tetapi tidak berpikir.

Mengapa sampah di Bandung, atau di Jawa Barat, atau di Indonesia pada umumnya tidak bisa diolah? Karena sampah tersebut bercampur-baur sehingga tidak bisa dijadikan kompos (karena banyak bahan-bahan yang tidak bisa diurai pada saat komposting seperti plastik dan metal), dan tidak bisa juga diincenerasi karena banyak mengandung bahan-bahan organik yang nilai kalornya rendah. Bahan-bahan ini memerlukan sumber bahan bakar lain yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan mahalnya biaya operasi insenerasi ini.

Nah, usul saya kepada Bapak Gubernur adalah untuk menyisihkan tenaga, dana dan usaha untuk mendidik masyarakat agar perhatian terhadap sampah ini. Himbaulah agar masyarakat memisahkan sampah organik dan non-organik, yang bisa di olah menjadi kompos dan yang tidak, yang bisa di daur-ulang atau yang bisa dibakar menjadi energi.

Mudah-mudahan Bandung menjadi cantik lagi tanpa sampah berserak dimana-mana.

Thanks buat Harry yang sudah buat blog ini. Tolong kirim Kang Danny, ya!!

Sangkuriang said...

Assalamualaikum.

Saya baru pulang dari Bandung. Berada di Bandung dari 14-18 May bersama2 keluarga.

Pendapat saya amat sayang sekali jika Kota Bandung dibiarkan berterusan dengan masalah longgokan sampah. Ini kerana keindahan dan kesegaran daerah Bandung yg begitu diperkatakan oleh kami di Malaysia akan mula terjejas menyebabkan pelancong keberatan berkunjung ke Bandung lagi, sekurang-kurangnya buat masa terdekat ini.

Justeru saya doakan penduduk Kota Bandung diberi kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini. Semoga Kota Bandung sukses dan maju jaya untuk hari2 yg mendatang.

Harry said...

Anonymous, thanks untuk komentarnya. Aku masih sangat optimis bahwa sampah Bandung bisa diolah. Pemberdayaan masyarakat adalah kuncinya.