05 June 2006

Siapa Bilang Kami Memble?

"Siapa bilang kami emmble?", itu kira-kira pesan yang dihembuskan oleh civitas akademika ITB di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis, Program Studi Teknik Kimia ITB berkenaan dengan teknologi pengelolaan sampah. "Tidak ada yang salah dengan pengusaan teknologi. Yang ada, gagasan yang muncul tidak selalu membuat aparat kota happy." Memang, ketika aku hadir di seminar intern laboratorium di sana, seorang mahasiswa bahkan memberikan presentasi tentang pengelolaan sampah kota menjadi bahan bakar dengan teknologi pirolisis. "Kita bisa kok menguasai teknologi seperti ini. Hanya kepercayaan yang tidak pernah kami dapatkan.", kata mereka. Bahkan Pak Mubiar Purwasasmita mengatakan, bahwa ia telah bosan berbicara tentang teknologi pengolahan sampah dengan aparat Kota Madya Bandung. Semua sumbangan pikirannya dianggap lucu. Padahal, diam-diam, secara mandiri dan sendiri-sendiri, beberapa staf akademik dan non-akademik telah membuat reaktor kompos sendiri dan memanfaatkannya di lingkungannya masing-masing. Tentu, dengan kesadaran bahwa, dengan daya yang seadanya, hasilnya juga seadanya.
Sering kali aku melihat teknisi bengkel Program Studi Teknik Kimia tengah sibuk membuat reaktor kompos yang dibuat dari drum PVC sederhana. Drum yang disulap sedemikian rupa menjadi reaktor kompos telah tersebar di berbagai tempat di Bandung. Memang langkah sporadis ini tidak (atau belum) efektif menjangkau titik perubahan sikap yang diharapkan bagi masyarakat Bandung. Namun, jika Pemkot tidak berbuat apa-apa, apakah kita akan diam saja? Jawabnya, TIDAK. Ada yang bilang, ITB memble. Melihat aktivitas ini dengan mata kepalaku sendiri, seakan-akan ITB menjawab, "Siapa Bilang Kami Memble?"

3 comments:

Herry S said...

Tolong kasih tau dong cara membuat bio reaktor untuk saya sosialisasikan di komunitas saya di Jakarta, sebelum sampah Jakarta menggunung seperti di Bandung ...

Lebih baik sampah di kurangi sejak dari sumbernya, di Rumah tangga.

Harry said...

Enggak ada yang aneh-aneh. Wadah apapun bisa digunakan sebagai reaktor kompos. Syaratnya cuman satu. Sediakan sistem ventilasi udara yang cukup. That's all!

Anonymous said...

Harry,

Composting itu dilakukan secara aerobic dan butuh cukup air agar microba yang hidup dapat melakukan degradasi sampah. Karena itu, aliran udara yang baik ke dalam sampah sangat penting, dan kalau perlu harus ada pengadukan untuk mempercepat proses. Sedangkan air tidak terlalu masalah untuk udara di Bandung karena tingkat kelembaban udara di Bandung cukup tinggi (hampir 100%?). Untuk daerah2 yang 'kering', perlu ada penyiraman secara berkala.

Menurut hemat saya, reaktor PVC tersebut tidak terlalu baik untuk composting (barangkali baik untuk anaerobic digester :) dan menghasilkan gas metan)

Mungkin anda bisa coba dengan composter 'kandang ayam' yang terbuat dari kayu/bambu yang di selang-seling, atau dari kawat ayam, sehingga banyak lubang disekitar sampahnya sehingga aktifitas aerobic digestion-nya bisa lebih baik.

Parameter yang bisa dipantau adalah temperatur di tengah tumpukan kompos. Temperaturnya bisa naik hingga 50-60 derajat celcius walaupun di luar hanya 25-30 derajat celcius. Jadi aktifitas microba bisa dipantau dari temperatur ini. Apabila temperatur tidak naik, ada banyak hal kemungkinannya, barangkali bahan sampah kering, kurang sumber nitrogen, atau proses komposting sudah selesai.

Mudah-mudahan input ini cukup berguna untuk meningkatkan kinerja reaktor anda.

rp.-