30 July 2007

Operasi Sapu Jagat

Suatu pagi, saya berjalan-jalan bersama anjingku di hutan pinus di Cikole, di depan camping ground Cikole. Yang membuat saya berbunga-bunga adalah, kondisi hutan yang lumayan asri, dan lingkungan yang tidak banyak disentuh oleh pengunjung membuat segalanya tampak sempurna. Burung bernyanyi di atas pohon pinus yang rindang. Jalan setapak yang menghubungkan hutan ini ke daerah bagian selatan Tangkuban Perahu membuat saya dan Aita, nama anjingku, bersemangat untuk menelusurinya.
Saya memarkir mobil di depan pintu gerbang menuju Tangkuban Perahu, dan saya menerabas ke arah kiri, bejalan di antara pepohonan pinus yang rindang. Dan, ouch!, tiba-tiba mataku menangkap tumpukan sampah bekas kota-kota makanan yang dibuang oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Sayang saat itu saya tidak membawa kamera digitalku :(. Tumpukan sampah itu menggunung di sebelah kanan jalan setapak, mengotori lingkungan yang menurutku sangat indah itu. Mengapa ada saja orang-orang yang sangat tidak menghargai lingkungannya? Dengan jengkel, saya menendang sebongkah batu di dekat gundukan sampah, dan berteriak, "buusseeetttthhh!!!". Teriakan itu kemudian makin sering terdengar ketika saya menemukan tumpukan-tumpukan lain di lokasi lain. Ohhhhhh.....
Saat itulah, kemudian saya berjanji untuk melakukan operasi sapu jagat minggu depan. Saya akan membawa kantong plastik besar, tongkat berpaku untuk mengumpulkan plastik yang mengotori tempat itu, dan minyak tanah dan korek api untuk membakar sampah plastik yang mengotori tempat itu. Tunggu saja!

26 June 2007

Buatlah Kompos dari Sampah Rumah Tangga Anda

Berapa banyak sampah sih yang diproduksi oleh orang Bandung? Menurut beberapa sumber, laju produksi sampah kota orang Bandung saat ini telah mencapai 25 ton/jam. Sebuah angka yang menakutkan, memang!
Jadi, anjuran untuk mengurangi volume sampah harus kita perhatikan dengan serius. Anjuran ini disertai juga dengan kesadaran diri untuk tidak membuang sampah seenaknya. Yang paling sederhana adalah, mengapa kita tidak mengolah sendiri sampah yang seharusnya kita buang itu? Buatlah kompos. Jangan membuang sisa makanan.

23 June 2007

PLTSa: Maju Kena Mundur Kena

Lokasi geografis Bandung yang berada di "Cekungan Bandung" memberikan karakteristik khas. Hal ini kemudian memberikan beberapa konsekuensi tertentu bagi manajemen lingkungan kota Bandung. Dampak yang tidak menguntungkan dari sisi geografis ini telah mengubah cara pandang para praktisi teknologi proses dan pemerhati lingkungan bagi usaha-usaha pengembangan daerah.
Menurut Deputi Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Sumber Institusi Kementerian Lingkungan Hidup Ir. Isa Karmisa Adiputra, kualitas udara di Cekungan Bandung telah begitu rendahnya, sehingga keasaman hujan di daerah ini telah sangat tinggi. "Bahkan, tingkat keasamannya sudah seperti orange juice," ujarnya. Menurut catatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, pH air hujan di Bandung telah mencapai angka 3,85, padahal pH normal adalah sekitar 5,6 saja.
Hal ini semua disebabkan karena gas buang yang teremisikan ke udara tidak bisa lepas dari daerah ini karena kondisi geografis Cekungan Bandung yang memang dikelilingi oleh pegunungan. Kabut dan awan yang tetap berada di Cekungan Bandung yang disebabkan oleh emisi gas buang ini bahkan teramati oleh satelit. Artinya, emisi gas buang yang terperangkap di Bandung akan selalu berada di daerah ini. Jika laju penambahan emisi gas buang ini tidak dikurangi, konsentrasi emisi gas buang di Cekungan Bandung akan terus bertambah dan dapat mengakibatkan rusaknya iklim tradisional Bandung, bukan saja karena hujan asam dan polusi udara, tetapi juga niaknya temperatur global kota Bandung yang telah mulai terasa akhir-akhir ini.
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) memang akan dapat menanggulangi masalah sampah di kota Bandung. produksi sampah di kota Bandung telah mencapai angka 25 ton/jam, sebuah laju produksi akumulasi sampah yang memang harus segera diatasi. Apakah PLTSa adalah jawabannya?
Well, PLTSA juga ditengarai akan menambah parah kualitas udara yang telah saya uraikan di atas yang nota bene sudah parah ini. Dalam artikelnya, "PLTSa: Alternatif Solusi Masalah Sampah", Ari Darmawan Pasek mengatakan bahwa PLTSa telah digunakan di berbagai negara. Ia bahkan menunjuk beberapa negara maju yang telah memproduksi tenaga listrik dengan memanfaatkan PLTSa, seperti Belanda, Jepang, Amerika, Singapura, dan Malaysia. Dioxin yang dihasilkan dari unit PLTSa dikurangi hingga di bawah ambang batas, dan diemisikan ke udara. Kandungan dioxin yang teremisikan bisa mencapai 37 gram per tahun. So, menurut Ari, pasti amanlah.
Namun, Ari Darmawan Pasek lupa, bahwa kondisi geografis lokasi di mana unit PLTSa itu dibangun mungkin tidak sama dengan kondisi geografis Bandung. Lebih-lebih jika kita berbicara tentang Belanda dan Singapura yang topografi daratannya memang flat, tidak dikelilingi oleh pegunungan, sehingga gas buang tidak akan terakumulasi di areal ini. Sehingga, ketika kita berbicara masalah unit PLTSa di Bandung, unit ini akan menjadi sebuah monster penghasil dioxin yang secara perlahan-lahan akan mengurangi kualitas hidup di kota Bandung!
Apa itu dioxin? Menurut The Alliance For A Clean Environment:

The name of a group of persistent very toxic chemicals. Dioxin is the nastiest, most toxic man-made organic chemical;(dioxin's toxicity is second only to radioactive waste).

Dioxin Health Effects

  1. Dioxin is a powerful hormone-disrupting chemical. It exhibits serious health effects when it reaches as little as a few parts per trillion in your body fat.
  2. There is NO "threshold" dose - the tiniest amount can cause damage, and our bodies have no defense against it.
  3. Dioxin modifies the functioning and genetic mechanism of the cell by "attaching" to a protein in the cell, much like a key fitting into a lock.
  4. Dioxin accumulates in the fat cells. It is not metabolized by humans.
  5. Dioxin causes a wide range of effects: potent cancer causing agent; damages the immune system, leading to increased susceptibility to infectious disease; reproductive and developmental effects; miscarriages and birth
    deformity; and Nervous System Disorders.
Sebuah dilema yang harus kita pikirkan bersama. Namun, jika saya ditanya masalah ini, saya akan menjawab bahwa saya menginginkan Bandung yang tetap asri; Bandung yang bebas dari masalah sampah dan dioxin. Mungkinkah? SANGAT MUNGKIN!

21 June 2007

Hingar Bingar PLTSa

Sejak digelindingkannya ide Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), yang akan diadopt oleh Bandung, hingar bingar PLTSa telah menjadi pokok pembicaraan para praktisi rekayasa (minimal) di Bandung. Berikut beberapa remah-remah yang mungkin menarik untuk disimak:

  • Amdal PLTSa Perlu Libatkan Masyarakat :: BAK halilintar di hari terang muncullah berita pada "PR" terbitan 5 Juni 2007, halaman 2: "Dada Ngotot PLTSa Dibangun Juli". Inti berita ialah Pak Wali Kota minta agar tim feasibility study (FS) ITB secepatnya menyelesaikan Amdal sehingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dapat mulai dibangun bulan Juli, minimal peletakan batu pertamanya.
  • Risiko PLTSa :: PROFESOR Tchobanoglous, pakar persampahan di Universitas California, Amerika Serikat menulis: unfortunately, few of the full-scale plants that have been built have proved to be successful. Although economic has been the major reason for their demise, some energy-conversion plants have failed because of technical difficulties.
  • PLTSa: Alternatif Solusi Masalah Sampah :: PEMBANGKIT Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), ”sanitary landfill, composting”, atau 3R merupakan alternatif teknologi penanganan sampah yang keberhasilan implementasinya bergantung tidak hanya pada aspek keunggulan teknologi masing-masing tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspek lainnya seperti aspek ekonomi, politik, sosial, dan legal.
  • PT BRIL Buka Peluang Warga Bekerja di PLTSa :: Meski operasional pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di wilayah Gedebage, Kota Bandung, berbasiskan teknologi tinggi, PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL), membuka peluang bagi warga sekitar untuk bekerja di lingkungan PLTSa berkapasitas 7 megawatt itu.
  • Ratusan orang berunjuk rasa tolak pembangunan PLTSa :: Ratusan orang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), berunjuk rasa di Gedung DPRD Kota Bandung, ITB, dan Gedung Sate, Senin (30/4).
  • Demo Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ke ITB :: Senin, 30 april 2007 momen sejarah yang tidak bisa dilupakan buat ITB. Hari itu masyarakat mendemo ITB tentang rencana pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
  • Aliansi Rakyat Tolak PLTSa Datangi ITB :: Sekitar 300 warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak PLTSa dan Koalisi Masyarakat Bandung Bermartabat mendatangi DPRD Kota Bandung dan DPRD Jawa Barat, Senin (30/4). Mereka menolak rencana pembangunan PLTS di dekat permukiman.
  • KNPI Kab. Bandung Dukung PLTSa Gedebage :: Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kab. Bandung secara tegas mendukung rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang akan dibangun Pemkot Bandung di daerah Gedebage.
  • Walikota Bandung Bersyukur Masyarakat Mulai Menerima Rencana Pembangunan PLTSa

Stasiun Kereta Api Bandung

Jika anda datang ke Bandung dengan Kereta Api dari Jakarta, sekitar 300 meter sebelum masuk stasiun Bandung, di sebelah kanan rel kereta api terdapat TPS yang penuh dengan onggokan sampah yang, duileh baunya!. Sampah ini telah beberapa hari ini terakumulasi sehingga benar-benar merusak pemandangan. bukan saja tidak sehat, tetapi juga aneh, karena tidak jauh dari sana terdapat pusat perbelanjaan yang relatif anyar, (....hyperpoint?) saya lupa namanya.
Kok bisa ya, tempat yang seyogyanya dipelihara kebersihannya, karena nota bene stasiun KA adalah pintu gerbang bagi personifikasi Bandung, yang secara langsung menggambarkan bagaimana masyarakat Bandung memperlakukan kotanya. Orang luar yang datang ke Bandung dengan menggunakan kereta api, ketika melihat situasi ini, akan berpikir, "Buset! Ngapain aku ke Bandung?"